Cara Menumbuhkan Rasa Percaya Diri!

August 27, 2018 Istiana setya rahayu 0 Comments


Cara Menumbuhkan Rasa Percaya Diri
Cara Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Apakah menumbuhkan rasa percaya diri itu mudah?
Bagaimana meningkatkan kepercayaan diri itu?

Kali ini aku mau bahas berdasarkan pengalamanku yang berusaha keluar dari 'cangkang' kurang percaya diri saat masih kecil untuk kalian!

From nothing to be something, you can do it too! 


Bagi kalian yang mengenal aku secara langsung, mungkin akan berpikir bahwa kepercayaan diri yang aku perlihatkan atau tunjukkan merupakan bawaan/bakat yang sudah ada di diri aku sejak kecil.

Belum lagi hasil test MBTI terakhir aku menunjukkan bahwa aku merupakan seseorang dengan karakter ESTP. (Ini hasil MBTI berubah-ubah sih, dulu ENTP-A hahaha).



Aku ingin memberitahu bahwa saat masih SD, aku itu merupakan anak yang tidak menonjol, selalu duduk di baris belakang, tidak pernah mengerjakan PR dan memiliki sedikit teman main. Aku juga termasuk anak pendiam ketika di kelas meski nggak intovert juga. (Buktinya aku sangat suka sekali bermain dengan teman sebaya).


Tapi, mari kita singkirkan dahulu tentang Tya saat masih kecil. Aku mau bahas bagaimana menumbuhkan rasa kepercayaan diri yang seharusnya dilatih sejak dini.


Menurutku kepercayaan diri akan muncul ketika kita memiliki tujuan/motivasi yang kuat yang kemudian bertemu dengan usaha.


Coba sekarang kalian pikirkan, "Apa tujuanmu saat ini?"


Secara singkat, tujuan yang kita impikan merupakan pemicu keinginan diri untuk membuat beberapa usaha agar semua bisa tercapai.

Dan ketika usaha itu lakukan, secara tanpa sadar kita sedang menyakinkan diri kita bahwa kita mampu meraihnya. Lalu secara alami kepercayaan diri itu tumbuh dengan sendiri seiringnya waktu.

Manusia merupakan makhluk yang selalu berproses dan berubah berdasarkan apa yang sedang ia hadapi. Semakin kita berusaha keluar dari zona nyaman dan membuktikan dalam wujud usaha, sadar atau tidak, mindset dan cara berpikir kita akan mengalami perubahan.


Tapi, ada satu catatan yang perlu kita pegang teguh.

"Jangan pernah takut bertemu si gagal ketika usahamu tidak berjalan dengan baik."

Ibarat ketika seorang programmer membuat sebuah pemograman dengan membuat serangkaian sistem logika, ia tidak akan berhenti ketika susunan logika sistem yang sudah dibuatnya tidak berjalan dengan baik. Justru hal itu membangkitkan semangat dia untuk mencari, "di mana kesalahannya?"

Trial dan error itu penting, karena dari kegagalan, kita dipacu untuk menelisik kesalahan yang sudah terjadi. Seseorang dengan mental pemenang pasti akan pantang menyerah, karena mereka akan berusaha memperbaiki sesuatu hal tanpa perlu tertahan terlalu lama di titik kegagalannya.

Memangnya mau terus terpojok dengan kegagalan sampai kapan? Sedangkan kamu terus beradu kecepatan dengan waktu dan kesempatan selalu ada selama ruh belum dicabut dari tubuh kita.

Aih gila... kata-kataku kok penuh filosofi gini? /skip

Kembali ke diriku saat masih kecil sebagai contoh.


Aku itu berasal dari keluarga sederhana dan juga bukan anak pintar serta menonjol di bidang lain.


Jujur aja, aku itu bosan melihat bagaimana guru SD aku begitu pilih kasih kepada siswa lain yang pintar dan kaya. Karena para guru itu bisa mendapat hadiah dari para wali murid yang berduit lebih.

Aku mah apa atuh. Kedua orang tuaku hidup sederhana dengan sarapan indomie tiap pagi wkwkwk.

Jadilah diriku yang saat itu hanyalah anak yang biasa-biasa saja dan bermain dengan mereka yang 'sekasta'. Belum lagi aku itu paling males belajar dan mengerjakan PR. Wong, kalau ke sekolah cuma mau main hahaha.

Bersyukurlah aku memiliki orang tua yang tidak memaksa anak-anaknya untuk meraih ranking tinggi di sekolah meski beliau adalah seorang guru TK.

Bagi beliau, yang paling penting adalah memiliki anak penurut, hormat kepada yang lebih tua, tidak biang onar dan mengerti kondisi keluarga. Kami dilatih untuk hidup sederhana. Baginya, segitu saja sudah sangat cukup.


Hingga sekitar kelas 4 SD, aku mulai berpikir, "Kok aku kayak nggak dianggap oleh guru-guruku, sih?"


Aku saat kecil mencoba cari cara agar bisa mendapat perhatian guru-guru. Kalau mau mengejar dari sisi nilai/rapor rasanya terlalu ketinggian untuk anak yang otak pas-pasan.


Yup, inilah tujuan yang sedang aku bicarakan. Aku ingin mendapat perhatian dan 'dilihat' oleh para guru sekolah.


Akhirnya aku berpikir untuk mengejar dari sisi non-akademis.

Aku mulai aktif rajin olahraga di sekolah dengan tujuan supaya bisa mewakilkan perlombaan. Tidak hanya di bidang olahraga—kala itu lagi mau ada lomba SKJ—aku juga terjun ke bidang seni bela diri di mana pencak silat kurang diminati.

Siapa tahu aku bisa menjadi perwakilan sekolah untuk lomba, kan?


Saat itu aku masih jadi anak pendiam. Tidak vokal sama sekali. Pokoknya datang dan latihan sampai capek.


Apakah aku berhasil mewakilkan sekolah untuk ikut perlombaan?


Jawaban:

TIDAK!


Sampai menjelang lulus sekolah, tujuan aku belum tercapai. Aku masih menjadi anak yang biasa saja, nilai rapor juga sangat biasa dan tidak pernah ranking.


Apakah aku berhenti? Nyatanya tidak.

Aku saat kecil kembali berpikir. Mencoba memecahkan kendala yang ada demi mencapai tujuan.


"Kalau saja di antar 48 murid aku tidak bisa menonjol, bukankah kesempatan itu masih bisa datang saat di SMP nanti? Akan ada 400 siswa dan puluhan guru yang akan aku temui di lingkungan baru nanti. Kemungkinan bertemu teman lama saat SD tentu ada, tapi penilaian mereka tentang aku yang lama tidak akan memengaruhi orang lain karena ada ratusan orang di sana. Ini sebuah kesempatan!"


Aku mengubah strategi lamaku. Yang tadinya aku ingin menonjol di bidang non-akademis, aku mencoba untuk 'mencari perhatian guru' dari sisi akademis.

Nah loh!


Iya beneran, aku berencana mengubah diriku yang dulu masa bodoh dengan nilai rapor menjadi seseorang yang mau dianggap sebagai 'anak pintar' oleh orang lain.


Pasti kalian berpikir, memangnya bisa? Atau cuma usaha pencitraan nih?


Eits, jangan salah. Saat itu aku challenge diriku dan membuat pemahaman kalau di dunia ini tidak ada orang bodoh, yang ada hanya orang rajin vs malas.


Aku percaya kalau kecerdasan seseorang tidak berasal gen atau saat orok dia sudah ditakdirkan jadi anak pintar.

Kecerdasan dan pengetahuan yang luas itu tercipta karena si individu tersebut memang menambah wawasannya terlebih dahulu tanpa diminta atau dituntut.


Aku pun melakukan percobaan dengan mempelajari bab buku yang kira-kira akan dibahas oleh guruku besok.

Jadwal pelajaran sekolah sudah dibagikan tuh. Jadi, kalau besok ada pelajaran ekonomi dan biologi, maka aku akan baca satu bab buku dulu semalam sebelumnya. Minimal beberapa lembar deh.


Apakah cara ini berhasil?


Jawaban:

BERHASIL!


Aku masih ingat suasana kelas ketika mereka kagum dengan diriku yang bisa mengulas penjelasan dari guru padahal saat itu merupakan minggu pertama masuk sekolah. Sampai guru mikir aku ini anak pintar hehehe.

Padahal mah ... SEMALAM AKU BACA BUKU DULU LOH! :')


Jaman dulu segala hal harus manual. Mungkin kalau anak sekarang bisa mengandalkan handphone lalu tanya uncle google, kalau dulu sih memang harus benar-benar dari buku dengan cara membacanya sampai dipahami.


Lambat laun kepercayaan diriku bertambah. Aku menyadari dengan mencapai sebuah tujuan maka akan terbentuk tujuan baru yang seiring waktu juga akan menambah kepercayaan diri dan membentuk karakter di diri kita.


Semester pertama saat SMP kelas 1 (kalau sekarang disebutnya kelas 7), aku berhasil masuk 10 besar kelas!

Ini sebuah kemajuan pesat yang berawal dari keinginanku untuk 'dilihat' atau 'dihargai' oleh lingkungan sekolah.


Karena prestasi nilai sudah cukup bagus dan guru-guru mengingat aku sebagai anak yang 'cukup pintar', aku memberanikan diri untuk join ekstrakulikuler dengan tujuan menambah pengalaman organisasiku dan menambah teman.

Oh, ya. Aku tuh benci banget lihat anak cowok yang sok jagoan dan suka menindas kawan yang lemah. Jadilah kemauanku join kegiatan di luar belajar adalah untuk menambah kesan 'kuat' di diriku.

Pemikiranku saat itu adalah: kalau kita mau dihormati orang lain, maka jadilah seseorang yang berpengaruh di lingkungan itu.

Lambat laun, aku ditunjuk untuk menjadi pengurus untuk beberapa organisasi. Ini merupakan hadiah dan tanggung jawab baru yang aku jalani dengan senang hati.

Kalau ada yang macem-macem atau menindas orang lain? OMELIN AJA TANPA GENTAR!


Bisa dibilang masa-masa SMP adalah masa di mana aku menemukan 'kepercayaan diri' dan mampu memupuknya sampai bisa sejauh ini.

Gara-gara aku punya tujuan biar bisa 'dilihat' oleh para guru, justru aku jadi mengetahui cara belajar dan mendapatkan nilai bagus dengan cara baik alias bukan menyontek.

Ternyata memang benar, kemampuan itu bukan hanya berasal dari bakat melainkan dari usaha dan kemauan.

Jadi untuk kalian yang sampai saat ini masih minder dan kurang kepercayaan diri, yuk bangkit!

Buatlah tujuan jangka pendekmu lalu susun beberapa strategi untuk meraihnya. Ketika satu tujuan telah tercapai, buatlah kembali tujuan yang baru.


Jangan pernah takut bertemu kegagalan ketika sesuatu tidak berjalan baik. Termasuk tujuan yang mungkin belum diizinkan Tuhan untuk berhasil dalam waktu dekat. Rengkuh kegagalanmu, ajak dia untuk mengenalmu lebih baik dan menyusun rencana baru di jalur lain.

Perkaya juga ilmu pengetahuanmu dan sering bertukar pikiran dengan mereka yang jauh lebih dewasa dan berumur dengan segudang pengalaman kehidupan. Ambil intisari atau hikmah dari kisah yang mereka ceritakan dengan bijak.



Dan satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan:


Jangan pernah memilih teman saat kamu sudah berhasil mencapai tujuanmu. Tetaplah rendah hati dan berteman dengan siapapun. Mau mereka anak pintar atau anak yang prestasinya biasa saja, tetaplah sambut mereka dengan hangat.



Karena siapa yang tahu di masa depan nanti justru roda kehidupan akan berubah?

Stay positive and humble!

Sometimes, good things took extra time to happen.

Kamu punya kendala kepercayaan diri dengan konteks yang berbeda? Silakan tinggalkan komentar atau kirim form. Kontak aku di twitter juga bisa di @misstyameyocom

You Might Also Like

0 comments: