Pengalaman: Telinga Berdenging, Sakit dan Obat Sakit Telinga

December 19, 2014 Istiana setya rahayu 20 Comments


Penyebab sakit telinga tentu bermacam-macam. Kali ini aku mau menceritakan mengenai pengalaman sakit telinga yang baru saja aku lewati beberapa minggu yang lalu dan menjelaskan obat telinga yang aku konsumsi. 


Semua ini terjadi akibat keisengan aku ingin membersihkan kuping menggunakan cotton stick alias korek kuping membuat aku harus menderita beberapa hari :(


Waktu itu yang aku rasakan awalnya telinga berdenging dan bindeng (kurangnya pendengeran) di telinga sebelah kanan. Tadinya mau aku abaikan, berpikir positif bahwa sakit telinga yang aku alami akan membaik dengan sendirinya.


Ternyata, telinga aku merasa sakit sekali dan merasa ngilu dibagian gusi gigi. Sesekali aku merasa sakit dibagian telinga seakan ditusuk-tusuk.  Rasa ngilu di gusi itu persis seperti lagi sakit gigi. Mungkin syaraf kuping dan gusi pada gigi saling berkaitan makanya bisa bikin gusi ngilu. Pokoknya yang aku rasakan itu menderita banget. Duh rasanya mau nangis tapi ga bisa karena lagi kerja. 


Sepulang kerja, karena tidak mampu menahan ngilu di gigi dan pusing yang aku rasakan akhirnya aku mampir dulu ke apotik dekat rumah. Kemudian aku ceritakan semua yang aku alami dan akhirnya apoteker memberikan antibiotik khusus THT.

Antibiotik tersebut bernama Biostatik dan obat tetes kuping Vital. Mereka menjelaskan sakit yang aku alami kemungkinan adalah radang gendang telinga akibat penggunaan korek kuping. Sehingga diperlukan antibiotik untuk meredakan radang yang aku alami. Sedangkan obat tetes kuping berfungsi sebagai antiseptik agar bakteri di dalam kuping bisa hilang.


Penjelasan untuk Biostatik: Pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang rentan terhadap Roxithromycin termasuk otitis media (radang rongga gendang telinga). sinusitis, infeksi bronkhopulmoner, infeksi genital/alat kelamin (selain gonokokal) dan manifestasi infeksi kulit.




Persyaratan dari apoteker hanyalah "wajib menghabiskan antibiotik tersebut dan apabila selama 4 hari masih sakit juga lebih baik langsung cek ke dokter."

Biaya yang aku habiskan sekitar 75 ribu rupiah, biaya tersebut jauh lebih murah dibandingkan teman aku yang mengalami radang dan infeksi pada gendang telinga yang menghabiskan 400 ribu rupiah di rumah sakit.


Dengan berdoa dan berusaha, alhamdulillah dalam waktu 3 hari sakit pada telinga dan ngilu gusi yang aku alami menghilang. Selain itu telinga berdenging dan bindeng sudah tidak terasa lagi. Namun untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, aku tetap konsumsi antibiotik Biostatik sampai habis.


Pesan dari aku ialah jangan membersihkan telinga menggunakan korek kuping sampai kebagian dalam lubang telinga, cukup diluarnya saja. Karena pada dasarnya telinga kita dapat membersihkan dengan sendirinya kok. Waktu itu aku baca-baca artikel untuk menambah pengetahuan tentang kuping.

Oh ya, sebagai informasi tambahan aku juga menemukan kisah sakit pada telinga dan menyebabkan meninggal dan dapat kalian baca dibawah ini:


===================================================
KUPING: SEUMUR HIDUP TAK PERLU DIBERSIHKAN!

Beberapa bulan yang lalu saya mengalami kejadian yang tak disangka-sangka. Lebih tepatnya yang mengalaminya anak dari adiknya kakek saya yang kini sudah meninggal. Awal penyebab meninggalnya simpel, dia punya kebiasaan “ngileni” atau mengorek telinga dengan ujung bulu ayam. Kebiasaan yang seolah-olah tak berbahaya sama sekali.


KRONOLOGINYA


Awalnya, paman saya hanya merasakan sakit di salah satu telinganya hingga tak tahan. Bukan karena sakitnya, tapi risih dengan rasa sakit kecil yang dirasakan berhari-hari. Dia diperiksakan ke dokter umum dan sakitnya hilang. Dua minggu kemudian, sakitnya timbul lagi. Kali ini harus dirawta oleh dokter spesialis THT dan harus menjalani perawatan pembersihan telinga seminggu dua kali. Karena menyepelekan nasehat dokter, paman saya enggan periksa setelah perawatan kedua. Ia merasa sudah sehat dan tak merasakan sakit lagi. Dua minggu kemudian, tiba-tiba ia pingsan selama beberapa menit dan setelah sadar ia tak bisa diajak berkomunikasi selama beberapa jam.


Pada hari itu juga, paman dibawa ke RS di Klaten dan harus menjalani rawat inap. Kondisinya memburuk dan harus dirujuk ke RS di Jogja yang peralatannya lebih lengkap. Setelah diperiksa dokter, diputuskan harus dioperasi otaknya karena “kuman” infeksi dari telinga itu sudah masuk ke otak. Persiapan operasi itu diperkirakan butuh waktu satu bulan, namun baru dua minggu dirawat paman sudah tak tertolong dan akhirnya meninggal.


Dari pengalaman buruk itu, saya mencari-cari informasi, apakah benar mengorek telinga bisa menyebabkan infeksi dan infeksinya bisa menjalar ke otak. Dan inilah info yang saya dapatkan.


SUSUNAN TELINGA


Telinga berfungsi sebagai alat pendengaran dan keseimbangan. Agar kedua fungsi tersebut berjalan, telinga harus dijaga. Sayang, banyak orang yang kadung salah dalam hal menjaga kebersihan telinga. Misalnya, mengorek telinga.


Telinga terdiri dari telinga luar, tengah dan dalam. Ketiga bagian ini bekerjasama menangkap gelombang suara dan menjadikannya bunyi yang nyata. Awalnya, gelombang suara diterima oleh telinga luar. Telinga luar sendiri terdiri dari daun dan liang telinga. Daun telinga menampung suara, yang kemudian disalurkan ke liang telinga. Dari liang telinga, suara kemudian masuk ke telinga tengah melalui gendang telinga. Di belakang gendang telinga, terdapat tulang pendengaran yang bentuknya menyerupai rantai. Tulang-tulang ini saling berhubungan pada sendi dan berfungsi mengantarkan gelombang suara hingga menggetarkan gendang dan sampai ke telinga dalam.


Di telinga dalam terdapat alat penerima yang disebut rumah siput. Di dalam rumah siput terdapat ujung-ujung saraf, cairan, dan organ yang mengambang. Gelombang suara yang diantarkan gendang dan tulang telinga akan menggetarkan cairan dalam rumah siput, sehingga membuat organ yang mengambang bergerak dan menyentuh ujung-ujung saraf pendengaran. Proses yang tadinya menggunakan tenaga mekanik kemudian diubah menjadi tenaga listrik, dan disampaikan ke otak sehingga kita mendengar suara.


Sementara sebagai alat keseimbangan, prosesnya lebih kompleks. Proses terjadi di telinga dalam. Telinga bekerjasama dengan organ lain seperti mata, sendi-sendi, otak dan lainnya. Jika ada dua organ yang tidak berfungsi, maka keseimbangan kita pun akan hilang.


BAHAYA MENGOREK


Bentuk telinga dirancang untuk mengantisipasi masuknya kotoran. Liang telinga yang bersudut membuat kotoran, seperti debu atau serangga, sulit menembus bagian yang lebih dalam. Tugas menghalau kotoran juga dilakukan kelenjar rambut yang terdapat di bagian depan setelah liang telinga. Di sini juga diproduksi getah telinga yang bernama serumen. Kita lebih mengenalnya sebagai tai telinga atau getah. Tai telinga inilah yang akan menangkap kotoran dan dengan sendirinya membersihkannya.


Orang sering salah kaprah menyangka tai telinga sebagai kotoran. Padahal, fungsinya sangat penting untuk membersihkan kotoran yang masuk. Secara alamaiah, kotoran yang masuk akan kering dan keluar sendiri. Tai telinga tidak usah dibuang, kecuali jika menggumpal dan menyumbat liang telinga sehingga menghalangi masuknya gelombang suara ke telinga dalam. Lagipula, tak banyak kasus orang yang mengalami penggumpalan getah ini.


Dalam kadar normal, tai telinga hanya menutupi permukaan dinding telinga. Jika dibersihkan, getah akan diproduksi lagi. Maka, telinga sebaiknya tidak dibersihkan dengan cara dikorek. Cukup bersihkan bagian luar saja, yaitu daun dan muara liang telinga. Bagian lebih dalam dari itu, seumur hidup pun tak perlu dibersihkan.


Salah satu yang sering dilakukan orang adalah mengorek telinga. Tak banyak yang tahu, mengorek telinga justru akan mengakibatkan terdorongnya getah telinga ke bagian yang lebih dalam yang bukan tempatnya. Jika getah ini dibersihkan, maka getah akan diproduksi lagi. Jika pengorekan dilakukan terus-menerus, getah yang

terdorong akan menumpuk dan menyumbat, sehingga pendengaran pun menurun karena gelombang suara tak bisa disalurkan dengan baik.

Mengorek telinga juga bisa mengakibatkan perbenturan sebab telinga kita bentuknya bersudut. Perbenturan ini akan mengakibatkan pembengkakan atau perdarahan. Pengorekan yang terlalu keras atau dalam juga bisa mengakibatkan trauma, ditambah dinding telinga kita mudah berdarah.


Masih ada lagi, mengorek telinga juga bisa bikin kolaps. Anda mungkin pernah mengalami batuk-batuk saat mengorek kuping. Nah, hal ini disebabkan adanya refleks saraf pagus yang terdapat di dinding telinga. Saraf pagus membentang ke tenggorokan, dada sampai perut. Batuk-batuk adalah refleks yang ringan. Refleks yang berat dan berbahaya bisa mengakibatkan kolaps.


MUKA TAK SIMETRIS


Mengorek telinga juga bisa menyebabkan infeksi. Infeksi yang berat dan berada di tempat yang sensitif bisa menyebabkan kualitas pendengaran menurun, bahkan membuat muka jadi mencong (tak simetris).


Salah satu saraf yang terdapat di telinga adalah saraf facialis. Saraf ini berada di belakang liang telinga. Fungsinya menggerakkan otot muka dan sebagai bagian yang menunjang pendengaran. Meski saraf ini dilindungi tulang, namun jika infeksi atau gangguan lain sudah mengenainya, maka bisa mengakibatkan muka menjadi mencong, mata tak bisa ditutup, dan lainnya, yang disebut kelumpuhan saraf facialis.


Infeksi akibat mengorek terlalu keras bisa berbentuk seperti bisul yang bernanah. Infeksi bisa terjadi di liang telinga, kelenjar rambut, bahkan sampai ke bagian telinga tengah di belakang gendang. Selain karena mengorek, infeksi telinga tengah yang disebut congek bisa pula disebabkan oleh adanya infeksi di saluran nafas, yang berasal dari belakang hidung lalu merambat ke saluran tuba eskafius yang menghubungkan rongga di belakang hidung dengan telinga tengah. Jika produksi nanah semakin banyak, maka gendang bisa pecah atau bocor. Akibat selanjutnya, pendengaran akan terganggu.


Di dalam telinga terdapat banyak sekali saraf. Itulah kenapa telinga sangat sensitif. Ketika kita sakit amandel, sakit gigi atau radang tenggorokan, telinga juga terasa sakit, karena telinga kita dilalui saraf perasa. Saraf ini akan mengalihkan rasa sakit di daerah lain sampai ke telinga.


HINDARI MUSIK KERAS


Banyak hal bisa menjadi penyebab menurunnya kualitas pendengaran. Dalam gangguan taraf ringan, orang hanya akan mampu mendengar bunyi dengan kapasitas 25 – 40 desibel saja, taraf sedang 40 – 60 desibel, dan jika lebih dari 60 desibel berarti berada dalam taraf berat.


Kita sering merasa tak pernah mendengarkan musik keras-keras. Namun punya kebiasaan mendengarkan musik dari HP atau MP3 player dengan headset atau earphone. Sekalipun alat itu kecil, karena penggunaannya yang ditempelkan di telinga menyebabkan tingkat kekerasan suaranya mengalahkan suara bising kereta api. Kerusakan penurunan pendengaran karena hal ini bersifat permanen dan tak bisa disembuhkan.


Penyebabnya beraneka ragam, mulai kelainan di telinga luar hingga dalam. Kelainan di telinga luar bisa disebabkan adanya penyumbatan oleh getah telinga, benda asing, bisul, atau tumor. Gangguan di telinga tengah seperti gendang pecah, perdarahan akibat benturan pada kecelakaan, terputusnya rantai tulang pendengaran atau keluarnya cairan karena alergi.


Sementara di telinga dalam, gangguan berupa “pingsan” atau matinya sel rambut yang mengubah getaran mekanik jadi listrik lalu menyampaikannya ke otak. “Pingsan” atau matinya sel rambut disebabkan trauma bising, misalnya mendengar terlalu lama dan sering bunyi-bunyian yang amat keras, infeksi yang menjalar dari telinga tengah atau karena keracunan obat. Melalui peredaran darah, racun dari obat bisa sampai ke telinga dalam.


Penyakit seperti darah tinggi dan diabetes juga bisa mengurangi pendengaran. Pasalnya, penyakit ini bisa sebabkan rusaknya pembuluh darah. Akibatnya, telinga dalam sebagai terminal tak mendapat makanan yang cukup,” ujar Darnila. Sejumlah makanan juga bisa menyebabkan penurunan pendengaran jika menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Contohnya garam, lemak dan rokok. Turunnya pendengaran karena darah tinggi, diabetes dan keracunan obat bisa menyerang dua belah telinga. Sementara penyebab lainnya hanya menyerang telinga yang mengalami gangguan. Perlu diingat, gangguan di satu telinga tidak menjalar ke

telinga yang lain.

Kebanyakan gangguan yang terjadi di telinga luar dan telinga tengah bisa diatasi. Sedangkan jika mengenai telinga dalam agak sulit. Kalau sel rambut di telinga dalam hanya “pingsan”, misalnya akibat mendengarkan musik disko selama dua jam saja, maka pendengaran akan kembali setelah beberapa lama menghindar musik keras ini. Namun, jika terlalu sering mendengar musik atau bunyi-bunyian yang amat keras, bisa saja sel rambut itu patah dan akhirnya kualitas pendengaran rusak

berat. Umumnya hal ini tak bisa diperbaiki.

Pendengaran menurun yang permanen juga bisa ditemukan pada bayi dengan

kelainan bawaan. Biasanya pada mereka bisa dilakukan tes refleks. Tes ini bisa dilakukan oleh orang tua yang merasa curiga anaknya tidak bisa mendengar. Caranya dengan membunyikan sesuatu di tempat tersembunyi, yang tidak bisa lihat matanya. Lihat saja, apakah saat mendengar bunyi ia langsung memberi respon atau tidak?

(Dari berbagai sumber)


You Might Also Like

20 comments:

  1. Ngeri yah dari korek-korek telinga efeknya bisa bikin muka sampe asimetris :(
    Untungnya aku ga pernah pake cotton bud buat bersiin kuping, trauma pas sd pernah keluar darah dari telinga, dari situ kalo mau bersihin kuping paling langsung ke dokter tht aja, dan dokternya bilang bersihin kuping 1x /tahun itu pun kalo kotorannya udah banyak.
    Bener kata kamu, kalo telinga ga perlu dibersihkan,soalnya ada saluran eusthacius (kalo ga salah namanya ini deh, cmiiw ya kalo salah, hehe) yang nyambung sama kerongkongan
    dengan aktifitas ngunyah dan menelan, sebenernya kotoran telinga nya bakal keluar dengan sendirinya ke saluran itu :)
    Nice to great review yaa tya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kok kamu bisa sampai darah gitu telinganya? Kenapa?

      Pokoknya indera kita tuh wajib dijagain banget. Bahkan juga harus hati-hati kalo mau tidur tapi tempat tidurnya kotor dgn bekas makanan itu bisa mancing semut kumpul dan nantinya kalo masuk ke kuping kan juga ngeri :(

      Makasih udah mampir dan berbagi pengalaman :)

      Delete
  2. kalo aku sakit kuping gegara flu,. bulan juni kemarin aku flu sampai dua telingaku berair, jadi kalau flu biasanya meler ini malah ga meler sama sekali di hidung, malah lewat kuping. aduuuhhh berdengung tapi gak nyeri sih....

    waktu itu dikasih antibiotik cefixime sama obat tetes telinga otopain. alhamdulillah segera sembuh dan gak dengung lagi. cuma larangannya, aku gak boleh berenang selama 6 bulan. hiks... tapi kemarin bandel snorkeling sih :))

    ternyata pakai cotton buds emang gak baik ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. What? kuping kamu bisa meler? :o

      Iya widy, jangan pernah korek2 kuping pake cotton buds lagi deh. Mendingan cek setahun sekali ke dokter aja supaya aman dan ga ngalamin radang seperti yg aku alami.

      temen aku malah ampe bengkak loh kupingnya :(

      Delete
  3. wah jadi nambah ilmu nih dan tahu keren mbak bahaya juga ya kalo gitu hiiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Helo Angkis, senang bisa berbagi pengalaman juga. Intinya dijaga baik-baik kupingnya dan ga perlu korek kuping karena kuping kita udah diciptakan bisa membersihkan dengan sendirinya :D

      Delete
  4. Wahhh,, sampai sebegitunya yaa .. Kuman itu aku rasa pasti dari bulu ayam itu ya ,, Innalillahi wa inna ilaihi rojiun .. :( Thanks for sharing Istiana .. :)

    Follow back ------ http://misskarlina.blogspot.com/

    ReplyDelete
  5. iya karlina, kadang hal yang kecil ternyata bisa berakibat fatal :(

    makasih udah mampir. aku udah follow back blog kamu ;)

    ReplyDelete
  6. Yang pasti sakit kali ini bukan karena kucing ya ti? buahahhaha. Duh jangan main-main deh sama cotton bud, sodara aku sampe radang telinga loh gara2 cotton bud. Sereeeem :(

    www.sweetlikeapeach.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan karena kucing kok hahahaa

      Nah iya itu maksud aku ri, yg aku alami itu termasuk radang telinga karena sampe bikin sakit ngilu di bagian kuping dalam. Mau tidur aja ga bisa.

      Sedihlah rasanya waktu itu karena lebih sakit daripada sakit hati hahahaha

      Delete
  7. Replies
    1. sama-sama Rinjani. Makasih sudah sempat mampir :D

      Delete
  8. Mbak saya mau nanya. telinga saya ini yg sebelah kanan uda hampir 5 bulan berdengung kecil....uda pake obat tetes otolin tapi keluhannya gak hilang'' gmana ya saran yg baik atau obat apa yg harus di pakai....trimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Afan, maaf baru sempat membalas. Penyebab telinga berdengung ada banyak hal, bisa jadi itu salah satu gangguan kesehatan namun memang ga boleh dibiarkan dan harus didiskusikan pada spesialis.

      Mungkin karena stres, sering mendengar musik dengan volume keras atau mungkin menggunakan pembersih telinga seperti cotton bud.

      Sudah dicoba menggunakan obat tetes vital? Gunakan selama 3 hari, apabila dengung masih belum terasa saya sarankan untuk ke dokter THT.

      Oh ya, kamu juga bisa diskusi terlebih dahulu pada apoteker pada saat membeli obat tetes telinga vital. Waktu itu saya belinya di apotik generik.

      Semoga cepat sembuh :)

      Delete
  9. baru tau w ga boleh di korek2.. alhasil skrg lagi ngalamin sakitnya niih. perih. nyut2an. ampe busi bengkak. thanks artikelnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah nasibnya sama tuh mas, buru-buru minum obat dan kasih obat tetes telinga tapi kalo ada uang lebih langsung ke dokter THT saja.

      semoga cepat sembuh.

      Delete
  10. hai, kalau boleh tanya pake obat vital ear oilnya sehari berapa kali ya? terimakasih

    ReplyDelete
  11. haii, mau nanya pke obat tetes vitalnya sehari 3 kali ya? trus di tungguin sampe kering nyerep atau gmn? soalnya saya pake obat itu udh 2 jam lebih miring trus pas mau berdiri tetep obat tetesnya mau keluar trus -_-

    ReplyDelete
  12. Nice video. Thank you for the information. We are provide rehabilitation for stroke patient. we are using two method which is combination of physiotherapy treatment and acupuncture. For further information can call us at 0124520077

    ReplyDelete